Tingkatan Komunikasi Manusia

originally posted on anovmailoa.blogspot.com

Ketika beberapa waktu yang lalu saya membaca artikel tentang kecepatan transfer data melalui jaringan komputer dan melihat bahwa kecepatan upload tidak pernah melewati bahkan menyamai kecepatan download, saya berkesimpulan bahwa ada analogi antara komunikasi manusia dan komunikasi data elektronis. Apakah ada manusia yang bisa menulis secepat membaca? Ketika kita menulis, dibutuhkan proses ‘transfer data’ per huruf, sedangkan ketika kita membaca, proses ‘transfer data’ yang terjadi bisa dilakukan per suku kata, bahkan semakin tinggi tingkat kemampuan membaca, semakin besar satuan aksara yang bisa diproses. Belum lagi proses untuk memikirkan rangkaian aksara yang akan ditulis, seperti yang saya alami saat menulis artikel ini!

Hal tersebut membawa saya kepada suatu konsep tentang tingkatan komunikasi pada manusia. Berdasarkan medianya tingkatan komunikasi manusia terbagi menjadi audio, visual, dan audio visual. Berdasarkan arahnya tingkatan komunikasi manusia terbagi menjadi downstream danupstream, sesuai dengan analogi di atas.

Mari kita kembali ke masa-masa awal pembentukan diri kita masing-masing. Ketika masih di dalam rahim ternyata kita sudah mempunyai kemampuan untuk mendengar, suatu kemampuan komunikasi yang berada pada tingkatan audio-downstream. Kemudian kita dilatih untuk dapat berbicara, kemampuan komunikasi tingkat audio-upstream. Masuk usia SD kita mulai diajar membaca, kemampuan komunikasi tingkat visual-downstream. Tidak lama kemudian kita dikenalkan dengan cara-cara menulis danmenggambar, kemampuan komunikasi tingkat visual-upstream. Sampai di sini sebenarnya sudah cukup bagi manusia untuk dapat berkomunikasi dengan baik, tetapi perkembangan kebutuhan baik internal maupun eksternal menuntut manusia mengembangkan setiap kemampuan berkomunikasi yang telah dimilikinya.

Pada tingkat kebutuhan tertentu manusia akhirnya mengembangkan suatu tingkatan kemampuan komunikasi baru yaitu audio-visual baik downstream maupun mainstream. Pada tingkatan audio-visual-downstream ada kemampuan memirsa yang merupakan gabungan antara daya tangkap audio dan visual. Kemudian pada tingkatan audio-visual-upstream, kemampuan yang muncul menjadi semakin kompleks. Penyutradaraan dan koreografi adalah beberapa contoh bentuk komunikasi pada tingkatan ini. Tidak semua manusia memiliki kemampuan ini. Itulah sebabnya muncul berbagai macam penghargaan untuk pekerja-pekerja industri hiburan, salah satu bidang pekerjaan yang menuntut bentuk komunikasi pada tingkatan ini. Adakah penghargaan untuk pendengar terbaik atau pembaca terbaik? Penghargaan untuk penulis terbaik dan pembicara terbaik walaupun ada tapi sangat sedikit dan gaungnya masih kalah dibandingkan penghargaan untuk tingkatan komunikasi audio-visual.

Jadi, sudah terbayang ujung akhir sejarah, yaitu ketika seluruh manusia telah sampai pada tingkatan komunikasi yang tertinggi: audio-visual-upstream. Ujung awalnya sudah jelas yaitu ketika manusia mulai dapat membaca dan menulis (patokan masa sejarah, lihat kembali buku-buku mata pelajaran sejarah Anda).

Berada pada tingkatan manakah Anda?

Kepemimpinan dan Hidup

originally posted on anovmailoa.blogspot.com

Kepemimpinan. Leadership.

“Siapa yang mau jadi ketua kelas?”
“Jangan saya, Bu Guru.”
“Saya juga jangan, Bu. Budi saja.”
“Aduh, saya juga jangan deh, Bu.”
Ibu Guru bingung. Ketiga anak tadi adalah murid-murid yang menurutnya paling kompeten menjadi ketua kelas, tapi mereka semua menolak menjadi ketua kelas.

+ Kenapa sih memangnya kalau kita diminta menjadi pemimpin?
– Ada tanggung jawab yang harus dipikul.
+ Lho, memangnya kalau kita tidak menjadi pemimpin, kita tidak punya tanggung jawab?
– Punya juga sih, tapi pemimpin kan tanggung jawabnya lebih besar.
+ Artinya, imbalannya juga lebih besar, dong?
– Iya sih.
+ Kalau begitu kamu mau dong kalau diminta jadi pemimpin?
– Belum siap deh kayaknya.
+ Trus kapan siapnya?
– Nanti, kalau sudah cukup pengalaman.
+ Pengalaman memang penting, tapi ingat, manusia dibatasi usia lho.

Ironisnya, menurut John C. Maxwell*, seseorang akan menjadi lebih efektif jika dia mau “membuka katup”-nya dengan menjadi seorang pemimpin. Artinya, dia akan lebih cepat belajar dan mencapai tingkat pengalaman yang tinggi. Dengan kata lain, semakin cepat kita mulai mengambil keputusan untuk jadi pemimpin, semakin banyak yang bisa kita lakukan buat dunia.

Bukankah itu tujuan hidup manusia di dunia?

Marriage vs Wedding

mar·riage noun
1 a (1) : the state of being united to a person of the opposite sex as husband or wife in a consensual and contractual relationship recognized by law (2) : the state of being united to a person of the same sex in a relationship like that of a traditional marriage <same-sex marriage>
b : the mutual relation of married persons : WEDLOCK
c : the institution whereby individuals are joined in a marriage
2 : an act of marrying or the rite by which the married status is effected; especially : the wedding ceremony and attendant festivities or formalities
3 : an intimate or close union <the marriage of painting and poetry — J. T. Shawcross>

wed·ding noun
1 : a marriage ceremony usually with its accompanying festivities : NUPTIALS
2 : an act, process, or instance of joining in close association
3 : a wedding anniversary or its celebration — usually used in combination <a golden wedding>

(according to Merriam-Webster Online Dictionary)

Terlihat bahwa penekanan pada marriage adalah adanya lembaga atau institusi, sedangkan wedding memberi penekanan pada proses awal.
Dalam bahasa Indonesia, marriage sepertinya bisa dipadankan dengan perkawinan dan wedding bisa dipadankan dengan pernikahan. Sebagai contoh, adanya UU Perkawinan bukan UU Pernikahan, karena yang diatur adalah ‘lembaga’-nya bukan semata proses awal saja.