Category Archives: Miscellaneous

Kesempatan menolong orang lain

Beberapa hari yang lalu saya mengalami hal yang menarik. Dalam sehari ada 3 orang yang menanyakan petunjuk jalan kepada saya. Menolong orang lain adalah kesempatan langka, dan di hari itu saya diberi kesempatan 3 kali.

Tapi, beberapa hari kemudian, setelah mengamati dan mencermati apa yang terjadi di sekitar saya, ternyata kesempatan untuk menolong orang lain sebenarnya terasa langka karena seringkali kita menghindar atau tidak mengambil kesempatan tersebut. Banyak pertimbangan dan alasan yang kita pakai untuk menghindar dari kesempatan tersebut. Buru-buru, tidak kenal, takut jangan-jangan yang hendak ditolong punya niat jahat, dan berbagai alasan lainnya. Alasan-alasan tersebut tidak salah, dan karena itulah kesempatan untuk menolong orang lain semakin menjadi anugerah yang luar biasa.

Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana kita mengenali kesempatan itu? Mungkin kita tidak pernah tahu. Mungkin tergantung dari kepribadian. Mungkin yang tahu memang cuma Tuhan, sang pemberi kesempatan.

Saya jadi teringat Pak Aaron yang pernah menolong saya dan istri (A True Christian). Mintalah kepada Tuhan agar diberi kesempatan untuk menolong orang lain.

Jangan sering berasumsi!

“Assumptions are always dangerous.” (quote from the movie “Chill Factor”)

Jangan sering berasumsi. Usahakan kumpulkan data sebanyak-banyaknya terlebih dahulu, supaya kesimpulan kita lebih baik dan kemungkinan terjadinya kesalahan semakin kecil. Jika pada akhirnya harus berasumsi pun, konsekuensi yang kita hadapi jika terjadi kesalahan pun tidak akan terlalu berat.

Malam ini saya sedikit bermain-main dengan asumsi. Bukan saya yang berasumsi tentunya, tapi saya ingin melihat kecenderungan orang berasumsi. Di Twitter dan Facebook saya membuat status: “Ngobrol sama istri via BBM.” Status tersebut segera beroleh respons beragam, dan dari respons tersebut tercermin beraneka ragam asumsi. Memang saat posting ini dibuat saya baru saja membeli sebuah perangkat BlackBerry. Nah, berdasarkan data tersebut, apa asumsi Anda? Saya keranjingan BlackBerry? Saya pamer BlackBerry? Atau apa?

Yang terjadi sebenarnya adalah malam ini saya pulang dengan KRL Pakuan Express dari Tanah Abang, dan pada saat kereta tiba di stasiun Sudirman gerbong yang saya naiki sudah penuh. Tidak ada kursi kosong dan ketika istri saya yang naik di stasiun tersebut berhasil menemui saya, sudah ada seorang bapak berdiri di depan tempat saya duduk. Setelah saya memberikan tempat duduk untuk istri saya, bapak tersebut tidak memberikan tempat untuk saya supaya bisa berdiri di dekat istri saya. Jadilah saya…. melakukan apa yang saya jadikan status tadi.

Saya tidak ingin pamer. Saya tidak keranjingan BB. Saya hanya ingin mengungkapkan kekesalan saya, tapi untungnya ada teknologi yang memungkinkan saya tetap bisa berkomunikasi dengan istri tanpa harus mengganggu orang lain. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa kehadiran teknologi seharusnya dilihat dengan cara yang positif, dan kalau bisa bermanfaat bagi kita dan orang banyak.

Jadi, di era teknologi informasi yang canggih ini belajarlah untuk memanfaatkan teknologi dengan cara yang positif. Hindari asumsi, karena sekarang informasi bisa diperoleh dengan cara yang mudah dan cepat.

Selamat malam, Indonesia. Selamat beristirahat. Sampai jumpa di lain kesempatan.

And God said, “My dear child, I really think you need some sleep.” Blarrr!!

Last night I’ve had a weird experience. I was watching CSI: NY on AXN, the episode where a girl died of thalium radiation exposure. There were thunders outside, but the plot had successfully made me curious so I decided to watched the show instead of going to sleep, although I’ve been through an exhausting weekend. Suddenly, in the middle of the show, a lightning struck with horrifying sound and my TV just turned off in a snap. I was terribly shocked. I couldn’t turn my TV back on, but the other electronic instruments I have seemed to have nothing wrong, even the satellite receiver. I waked my wife up, so if something worse happened I wouldn’t be alone. We checked everything and we found that it’s just the TV which we couldn’t turn on. At first, my main concern was my little daughter. Born in the internet age, she will surely find it hard to survive any days without TV. I tried to think of the solution, but exhaustion made me decided to sleep and think about in the morning.
The next day, which is today, this morning, I woke up and my wife suggested to try to turn the TV on again. Guess what happened! It turned on! I was amazed. Last night I was sure there’s some parts of the TV that broken out, at least the fuse and I have to replace it. But this morning, everything seemed to be alright. So what is the explanation for this?
Well, like I said before, I’ve had an exhausting weekend, but I insisted on watching the show. I think God tried to send message to me that I was doing something wrong. He forced me to sleep so I could wake up in the morning in good shape, just as I always ask in my prayers every night (at least as I remember). Despite all that terrifying thunder last night, it didn’t rain, not even a drizzle. At least I didn’t find any trace of it. I think this is how prayers work, so guys, keep on praying!

Last night I’ve had a weird experience. I was watching CSI: NY on AXN, the episode where a girl died of thalium radiation exposure. There were thunders outside, but the plot had successfully made me curious so I decided to watched the show instead of going to sleep, although I’ve been through an exhausting weekend. Suddenly, in the middle of the show, a lightning struck with horrifying sound and my TV just turned off in a snap. I was terribly shocked. I couldn’t turn my TV back on, but the other electronic instruments I have seemed to have nothing wrong, even the satellite receiver. I waked my wife up, so if something worse happened I wouldn’t be alone. We checked everything and we found that it’s just the TV which we couldn’t turn on. At first, my main concern was my little daughter. Born in the internet age, she will surely find it hard to survive any days without TV. I tried to think of the solution, but exhaustion made me decided to sleep and think about in the morning.

The next day, which is today, this morning, I woke up and my wife suggested to try to turn the TV on again. Guess what happened! It turned on! I was amazed. Last night I was sure there’s some parts of the TV that broken out, at least the fuse and I have to replace it. But this morning, everything seemed to be alright. So what is the explanation for this?

Well, like I said before, I’ve had an exhausting weekend, but I insisted on watching the show. I think God tried to send message to me that I was doing something wrong. He forced me to sleep so I could wake up in the morning in good shape, just as I always ask in my prayers every night (at least as I remember). Despite all that terrifying thunder last night, it didn’t rain, not even a drizzle. At least I didn’t find any trace of it. I think this is how prayers work, so guys, keep on praying!

A True Christian

Jumat malam lalu, saya dan istri saya mengalami musibah. Taxi yang kami tumpangi menabrak mobil di depan di jalan tol Jagorawi. Tantrie terantuk kursi depan sehingga mengalami pendarahan ringan di hidung. Kedua kendaraan mengalami kerusakan yang cukup parah. Perusahaan taxi mengirimkan kendaraan tapi butuh waktu lama. Akhirnya saya putuskan untuk menghentikan kendaraan yang lewat untuk minta tolong agar istri saya segera dibawa ke rumah sakit, dengan keyakinan bahwa Tuhan pasti akan menggerakkan hati seseorang untuk menolong kami. Karena saya berniat membawa istri langsung ke Bogor, saya mencari mobil dengan nomor polisi F. Lalu lintas masih cukup padat, jadi banyak mobil yang bisa kami mintai tolong. Mobil pertama yang saya cegat tidak mau berhenti. Mobil-mobil berikutnya bernomor polisi B. Akhirnya saya cegat juga mobil bernomor polisi B, dengan harapan pengemudinya bersedia mengantar kami ke Bogor. Salah satu mobil akhirnya berhenti. Ternyata pemiliknya tinggal di daerah Sentul, dan pada saat kami naik, dia sedang mendengarkan RPK FM. “Puji Tuhan,” kata saya dalam hati. Bukan hanya menggerakkan hati seseorang, Tuhan bahkan mengirimkan salah satu hambanya yang setia. Namanya Pak Aaron. Kami pun berkenalan dan berbincang-bincang. Ketika saya dan istri mengucapkan terima kasih, dia berkata bahwa justru dia yang bersyukur karena Tuhan memberinya kesempatan untuk menolong orang lain.

Malam itu, Pak Aaron telah memberi contoh bagaimana seorang Kristen yang sejati: memberi pertolongan pada orang yang tidak dikenal dan bersyukur atas kesempatan itu. Tidak mudah untuk melakukan apa yang Pak Aaron sudah lakukan malam itu. Kita yang sudah terbiasa dengan kegilaan dunia ini akan cenderung berpikir seribu kali untuk menolong orang yang tidak dikenal. Bahkan sejak jaman Yesus pun, kecenderungan pilih-pilih dalam menolong orang pun sudah ada, seperti dikisahkan dalam cerita orang Samaria yang baik. Baiklah sekarang kita berdoa, supaya ketika kita diberi kesempatan menolong orang lain, kita tidak terjebak dalam pertimbangan akal sehat yang malah menghambat kita menjadi saluran berkat bagi orang lain.

Tuhan, terima kasih untuk Pak Aaron yang sudah Tuhan pertemukan dengan kami. Pakailah dia selalu sebagai saluran berkat bagi orang lain, sebagaimana Tuhan telah rencanakan baginya. Amin.

Tingkatan Komunikasi Manusia

originally posted on anovmailoa.blogspot.com

Ketika beberapa waktu yang lalu saya membaca artikel tentang kecepatan transfer data melalui jaringan komputer dan melihat bahwa kecepatan upload tidak pernah melewati bahkan menyamai kecepatan download, saya berkesimpulan bahwa ada analogi antara komunikasi manusia dan komunikasi data elektronis. Apakah ada manusia yang bisa menulis secepat membaca? Ketika kita menulis, dibutuhkan proses ‘transfer data’ per huruf, sedangkan ketika kita membaca, proses ‘transfer data’ yang terjadi bisa dilakukan per suku kata, bahkan semakin tinggi tingkat kemampuan membaca, semakin besar satuan aksara yang bisa diproses. Belum lagi proses untuk memikirkan rangkaian aksara yang akan ditulis, seperti yang saya alami saat menulis artikel ini!

Hal tersebut membawa saya kepada suatu konsep tentang tingkatan komunikasi pada manusia. Berdasarkan medianya tingkatan komunikasi manusia terbagi menjadi audio, visual, dan audio visual. Berdasarkan arahnya tingkatan komunikasi manusia terbagi menjadi downstream danupstream, sesuai dengan analogi di atas.

Mari kita kembali ke masa-masa awal pembentukan diri kita masing-masing. Ketika masih di dalam rahim ternyata kita sudah mempunyai kemampuan untuk mendengar, suatu kemampuan komunikasi yang berada pada tingkatan audio-downstream. Kemudian kita dilatih untuk dapat berbicara, kemampuan komunikasi tingkat audio-upstream. Masuk usia SD kita mulai diajar membaca, kemampuan komunikasi tingkat visual-downstream. Tidak lama kemudian kita dikenalkan dengan cara-cara menulis danmenggambar, kemampuan komunikasi tingkat visual-upstream. Sampai di sini sebenarnya sudah cukup bagi manusia untuk dapat berkomunikasi dengan baik, tetapi perkembangan kebutuhan baik internal maupun eksternal menuntut manusia mengembangkan setiap kemampuan berkomunikasi yang telah dimilikinya.

Pada tingkat kebutuhan tertentu manusia akhirnya mengembangkan suatu tingkatan kemampuan komunikasi baru yaitu audio-visual baik downstream maupun mainstream. Pada tingkatan audio-visual-downstream ada kemampuan memirsa yang merupakan gabungan antara daya tangkap audio dan visual. Kemudian pada tingkatan audio-visual-upstream, kemampuan yang muncul menjadi semakin kompleks. Penyutradaraan dan koreografi adalah beberapa contoh bentuk komunikasi pada tingkatan ini. Tidak semua manusia memiliki kemampuan ini. Itulah sebabnya muncul berbagai macam penghargaan untuk pekerja-pekerja industri hiburan, salah satu bidang pekerjaan yang menuntut bentuk komunikasi pada tingkatan ini. Adakah penghargaan untuk pendengar terbaik atau pembaca terbaik? Penghargaan untuk penulis terbaik dan pembicara terbaik walaupun ada tapi sangat sedikit dan gaungnya masih kalah dibandingkan penghargaan untuk tingkatan komunikasi audio-visual.

Jadi, sudah terbayang ujung akhir sejarah, yaitu ketika seluruh manusia telah sampai pada tingkatan komunikasi yang tertinggi: audio-visual-upstream. Ujung awalnya sudah jelas yaitu ketika manusia mulai dapat membaca dan menulis (patokan masa sejarah, lihat kembali buku-buku mata pelajaran sejarah Anda).

Berada pada tingkatan manakah Anda?

Kepemimpinan dan Hidup

originally posted on anovmailoa.blogspot.com

Kepemimpinan. Leadership.

“Siapa yang mau jadi ketua kelas?”
“Jangan saya, Bu Guru.”
“Saya juga jangan, Bu. Budi saja.”
“Aduh, saya juga jangan deh, Bu.”
Ibu Guru bingung. Ketiga anak tadi adalah murid-murid yang menurutnya paling kompeten menjadi ketua kelas, tapi mereka semua menolak menjadi ketua kelas.

+ Kenapa sih memangnya kalau kita diminta menjadi pemimpin?
– Ada tanggung jawab yang harus dipikul.
+ Lho, memangnya kalau kita tidak menjadi pemimpin, kita tidak punya tanggung jawab?
– Punya juga sih, tapi pemimpin kan tanggung jawabnya lebih besar.
+ Artinya, imbalannya juga lebih besar, dong?
– Iya sih.
+ Kalau begitu kamu mau dong kalau diminta jadi pemimpin?
– Belum siap deh kayaknya.
+ Trus kapan siapnya?
– Nanti, kalau sudah cukup pengalaman.
+ Pengalaman memang penting, tapi ingat, manusia dibatasi usia lho.

Ironisnya, menurut John C. Maxwell*, seseorang akan menjadi lebih efektif jika dia mau “membuka katup”-nya dengan menjadi seorang pemimpin. Artinya, dia akan lebih cepat belajar dan mencapai tingkat pengalaman yang tinggi. Dengan kata lain, semakin cepat kita mulai mengambil keputusan untuk jadi pemimpin, semakin banyak yang bisa kita lakukan buat dunia.

Bukankah itu tujuan hidup manusia di dunia?

Marriage vs Wedding

mar·riage noun
1 a (1) : the state of being united to a person of the opposite sex as husband or wife in a consensual and contractual relationship recognized by law (2) : the state of being united to a person of the same sex in a relationship like that of a traditional marriage <same-sex marriage>
b : the mutual relation of married persons : WEDLOCK
c : the institution whereby individuals are joined in a marriage
2 : an act of marrying or the rite by which the married status is effected; especially : the wedding ceremony and attendant festivities or formalities
3 : an intimate or close union <the marriage of painting and poetry — J. T. Shawcross>

wed·ding noun
1 : a marriage ceremony usually with its accompanying festivities : NUPTIALS
2 : an act, process, or instance of joining in close association
3 : a wedding anniversary or its celebration — usually used in combination <a golden wedding>

(according to Merriam-Webster Online Dictionary)

Terlihat bahwa penekanan pada marriage adalah adanya lembaga atau institusi, sedangkan wedding memberi penekanan pada proses awal.
Dalam bahasa Indonesia, marriage sepertinya bisa dipadankan dengan perkawinan dan wedding bisa dipadankan dengan pernikahan. Sebagai contoh, adanya UU Perkawinan bukan UU Pernikahan, karena yang diatur adalah ‘lembaga’-nya bukan semata proses awal saja.