|
Bekerja Dengan Hasrat yang Menggebu-gebu (Compelling Desire) |
|
Contributed by Anov Mailoa
|
|
Thursday, 19 March 2009 |
|
Kita seringkali bertanya-tanya atau ditanyai orang tentang tujuan kita bekerja. Kenapa sih kita harus bangun pagi-pagi dan pulang malam-malam untuk menyelesaikan pekerjaan kita? Apa yang kita kejar? Uang? Karir? Pengakuan? Atau cuma mengisi waktu, daripada bengong di rumah? Dalam bekerja, kita akan menemukan suatu momen saat kita mulai kehilangan arah dan bertanya-tanya apa yang kita lakukan saat ini. Pekerjaan berubah menjadi rutinitas yang wajib dilakukan atau menjadi kewajiban yang rutin dilakukan. Kita kehilangan excitement. Kita kehilangan gairah. Kita kehilangan motivasi. Pada saat kita mengalami momen ini, kita bereaksi dengan mencari penyebab kita kehilangan itu semua. Muncullah kambing-kambing hitam: gaji yang tidak kunjung naik, bahkan sering telat; karir yang tidak jelas; pekerjaan yang monoton; perusahaan yang tidak mengikuti perkembangan zaman; dan banyak lagi. Padahal, kalau gaji tidak lagi sesuai dengan kinerja dan kontribusi, artinya ada yang salah dan harus ada yang diperbaiki. Tetapi apakah kita melakukan sesuatu untuk memperbaiki? Tidak, kita cuma teriak-teriak dan mengeluh. Karir juga menjadi tidak jelas karena kita seringkali tidak jelas mendefinisikan visi dan cita-cita kita di masa depan. Cita-cita adalah sesuatu yang mendorong kita ke arah yang lebih baik. Tanpa cita-cita, kita tidak tahu harus berbuat apa untuk masa depan kita. Bagaimana dengan pekerjaan yang monoton? Lho, memangnya yang melakukan pekerjaan itu siapa? Siapa yang tahu untuk apa dan bagaimana caranya? Kita sendiri, 'kan? Ya buatlah supaya tidak monoton dan menarik. Bagaimana juga dengan perusahaan yang tidak mengikuti perkembangan zaman? Ya, berdirilah sebagai pembaharu, pemimpin yang bervisi, jangan cuma ikut-ikutan. Nah, semuanya ada di tangan kita sendiri, kan? Jadi, berhentilah mengeluh dan mulai bertindak!
|
|
Last Updated ( Thursday, 19 March 2009 )
|
|
Read more...
|
|
|
Dahulukan Penumpang Yang Turun |
|
Contributed by Anov Mailoa
|
|
Monday, 16 March 2009 |
|
Kenapa di kendaraan umum ada aturan, tertulis maupun tidak, bahwa penumpang yang hendak turun harus didahulukan? Ada penjelasannya. Yang tidak ada penjelasannya adalah kenapa ada orang yang tidak mengerti bahwa penumpang turun harus didahulukan. Pertama, mari kita berasumsi bahwa ketika kita hendak naik ke suatu kendaraan umum, kendaraan umum itu telah penuh, tetapi ada yang hendak turun. Nah, kalau kita naik sebelum penumpang yang hendak turun itu, dimana kita bisa menempatkan diri? Ingat, kendaraan itu dalam kondisi penuh sebelum kita menghentikannya untuk naik. Kedua, mari kita berasumsi bahwa sebelum proses naik-turun selesai, kendaraan tersebut sudah berjalan lagi. Jika kita memaksa naik terlebih dahulu, maka penumpang yang hendak turun tadi tidak punya kesempatan untuk turun lagi dan mungkin dia baru bisa turun di perhentian berikutnya. Kasihan sekali. Seandainya kita tidak memaksakan diri untuk naik, penumpang yang hendak turun tadi masih sempat turun, dan sesial-sialnya kita masih bisa naik kendaraan berikut. Semua orang senang. Apa lagi ya?
|
|
|
Test Opera Mini 4.2 dari E51 |
|
Contributed by Anov Mailoa
|
|
Monday, 05 January 2009 |
|
Percobaan blogging dari E51 dengan Opera Mini 4.2...
OK?
|
|
|
Written by Tantrie Mailoa
|
|
Tuesday, 30 December 2008 |
Syair: P.I. Moeton
Lagu: Annie F Harrison
Jika jiwaku berdoa kepada-Mu Tuhanku
Ajar aku t'rima saja pemberian tangan-Mu
dan mengaku, s'perti Yesus di depan sengsara-Nya
Jangan kehendakku Bapa, Kehendak-Mu jadilah
Apa juga yang Kautimbang, baik untuk hidupku
biar aku pun setuju dengan maksud hikmat-Mu
menhayati dan percaya walau hatiku lemah
Jangan kehendakku Bapa, kehendak-Mu jadilah
Aku cari penghiburan hanya dalam kasih-Mu
Dalam susah dikau saja perlindungan hidupku
'Ku mengaku, s'perti Yesus di depan sengsara-Nya
jangan kehendakku Bapa, Kehendak-Mu jadilah
|
|
Last Updated ( Tuesday, 06 January 2009 )
|
|
|
Contributed by Anov Mailoa
|
|
Tuesday, 30 December 2008 |
|
(David Foster/Carole Bayer Sager/Richard Page) sung by Josh Groban
Somedays we forget To look around us Somedays we can't see The joy that surrounds us So caught up inside ourselves We take when we should give. So for tonight we pray for What we know can be. And on this day we hope for What we still can't see. It's up to us to be the change And even though we all can still do more There's so much to be thankful for. Look beyond ourselves There's so much sorrow It's way too late to say I'll cry tomorrow Each of us must find our truth It's so long overdue So for tonight we pray for What we know can be And every day we hope for What we still can't see It's up to us to be the change And even though we all can still do more There's so much to be thankful for. Even with our differences There is a place we're all connected Each of us can find each other's light So for tonight we pray for What we know can be And on this day we hope for What we still can't see It's up to us to be the change And even though this world needs so much more There's so much to be thankful for
|
|
|
Contributed by Anov Mailoa
|
|
Tuesday, 30 December 2008 |
|
Ketika kecil, jika ditanya tentang cita-cita, jawaban kita begitu lugas dan sederhana. Dokter, polisi atau insinyur, umumnya bicara tentang profesi. Ada juga, sih, yang tidak menyebutkan profesi. Ada anak kecil yang jika ditanyakan cita-citanya akan menjawab dengan lucunya, "Mau jadi pengantin!" Apakah cita-cita sesederhana itu? Bahkan ketika cita-cita itu sudah tercapai, ternyata cita-cita kembali menjadi pertanyaan. Setelah menyelesaikan studi kita di akademi kepolisian, fakultas kedokteran atau fakultas teknik apakah kita sudah tidak punya cita-cita lagi? Lalu apa cita-cita kita selanjutnya? Bagaimana pula dengan orang yang sudah meninggal? Salah satu suster yang merawat Papa di saat-saat terakhir sebelum dipanggil Tuhan bercerita bahwa Papa sempat berdoa memohon kepada Tuhan agar diberi hidup lebih lama karena masih banyak hal yang belum dilakukannya. Entah benar atau tidak cerita itu, ternyata Papa masih punya cita-cita yang harus diwujudkan. Cita-cita adalah motivasi untuk hidup. Tanpa cita-cita tidak ada alasan untuk hidup. Cita-cita tidak perlu rumit atau muluk-muluk. Ya, cita-cita harus tinggi, tapi tidak muluk-muluk. Seringkali juga kita bahkan tidak sadar bahwa kita sebenarnya punya cita-cita. Keinginan-keinginan sederhana kita sebenarnya juga adalah cita-cita. Cita-cita itu bisa berasal dari kita sendiri atau sesuatu yang harus kita teruskan dari orang-orang terkasih yang meninggalkan kita. Bagaimana dengan cita-cita Anda?
|
|
Last Updated ( Tuesday, 30 December 2008 )
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 Next > End >>
|
| Results 1 - 6 of 22 |