Home
About Us
Blog
Articles
Links
Search
Guest Book
Polls
Melihat foto2 yang ada di website ini, menurut Anda Celine mirip...
 
Shout!!
Latest Message: 4 months, 2 weeks ago
  • [GUEST]ip : Test ah
  • [GUEST]guest_4541 : test
  • [GUEST]si Johny : ga asik nih h
  • [GUEST]guest_4884 : peace ^^
  • [GUEST]guest_4884 : la la la ^^
  • [GUEST]si Johny : kerja kerja
  • [GUEST]si Johny : woi woi, jangan ngurusin rumah mailoa terus
  • Anov Mailoa : Sistem comment juga sudah diganti dengan yang lebih banyak fiturnya...
  • Anov Mailoa : Guest book sudah bisa diisi lagi... silahkan tinggalkan pesan-pesan Anda
  • [GUEST]CakBowo : Hallo ....
Login Form





Lost Password?
Who's Online
We have 2 guests online

Powered by Joomla

Komunitas Pengguna Apple Macintosh Indonesia
Komunitas Pengguna Apple Macintosh Indonesia
Home
Bekerja Dengan Hasrat yang Menggebu-gebu (Compelling Desire)
Contributed by Anov Mailoa   
Thursday, 19 March 2009

Kita seringkali bertanya-tanya atau ditanyai orang tentang tujuan kita bekerja. Kenapa sih kita harus bangun pagi-pagi dan pulang malam-malam untuk menyelesaikan pekerjaan kita? Apa yang kita kejar? Uang? Karir? Pengakuan? Atau cuma mengisi waktu, daripada bengong di rumah?

 

Dalam bekerja, kita akan menemukan suatu momen saat kita mulai kehilangan arah dan bertanya-tanya apa yang kita lakukan saat ini. Pekerjaan berubah menjadi rutinitas yang wajib dilakukan atau menjadi kewajiban yang rutin dilakukan. Kita kehilangan excitement. Kita kehilangan gairah. Kita kehilangan motivasi. Pada saat kita mengalami momen ini, kita bereaksi dengan mencari penyebab kita kehilangan itu semua. Muncullah kambing-kambing hitam: gaji yang tidak kunjung naik, bahkan sering telat; karir yang tidak jelas; pekerjaan yang monoton; perusahaan yang tidak mengikuti perkembangan zaman; dan banyak lagi. Padahal, kalau gaji tidak lagi sesuai dengan kinerja dan kontribusi, artinya ada yang salah dan harus ada yang diperbaiki. Tetapi apakah kita melakukan sesuatu untuk memperbaiki? Tidak, kita cuma teriak-teriak dan mengeluh. Karir juga menjadi tidak jelas karena kita seringkali tidak jelas mendefinisikan visi dan cita-cita kita di masa depan. Cita-cita adalah sesuatu yang mendorong kita ke arah yang lebih baik. Tanpa cita-cita, kita tidak tahu harus berbuat apa untuk masa depan kita. Bagaimana dengan pekerjaan yang monoton? Lho, memangnya yang melakukan pekerjaan itu siapa? Siapa yang tahu untuk apa dan bagaimana caranya? Kita sendiri, 'kan? Ya buatlah supaya tidak monoton dan menarik. Bagaimana juga dengan perusahaan yang tidak mengikuti perkembangan zaman? Ya, berdirilah sebagai pembaharu, pemimpin yang bervisi, jangan cuma ikut-ikutan. Nah, semuanya ada di tangan kita sendiri, kan? Jadi, berhentilah mengeluh dan mulai bertindak!

 

 

Last Updated ( Thursday, 19 March 2009 )
Read more...
 
Dahulukan Penumpang Yang Turun
Contributed by Anov Mailoa   
Monday, 16 March 2009

Kenapa di kendaraan umum ada aturan, tertulis maupun tidak, bahwa penumpang yang hendak turun harus didahulukan? Ada penjelasannya. Yang tidak ada penjelasannya adalah kenapa ada orang yang tidak mengerti bahwa penumpang turun harus didahulukan.

 

Pertama, mari kita berasumsi bahwa ketika kita hendak naik ke suatu kendaraan umum, kendaraan umum itu telah penuh, tetapi ada yang hendak turun. Nah, kalau kita naik sebelum penumpang yang hendak turun itu, dimana kita bisa menempatkan diri? Ingat, kendaraan itu dalam kondisi penuh sebelum kita menghentikannya untuk naik.

 

Kedua, mari kita berasumsi bahwa sebelum proses naik-turun selesai, kendaraan tersebut sudah berjalan lagi. Jika kita memaksa naik terlebih dahulu, maka penumpang yang hendak turun tadi tidak punya kesempatan untuk turun lagi dan mungkin dia baru bisa turun di perhentian berikutnya. Kasihan sekali. Seandainya kita tidak memaksakan diri untuk naik, penumpang yang hendak turun tadi masih sempat turun, dan sesial-sialnya kita masih bisa naik kendaraan berikut. Semua orang senang.

 

Apa lagi ya?

 

 
Test Opera Mini 4.2 dari E51
Contributed by Anov Mailoa   
Monday, 05 January 2009
Percobaan blogging dari E51 dengan Opera Mini 4.2... OK?
 
Jika Jiwaku Berdoa
Written by Tantrie Mailoa   
Tuesday, 30 December 2008
Syair: P.I. Moeton
Lagu: Annie F Harrison

Jika jiwaku berdoa kepada-Mu Tuhanku
Ajar aku t'rima saja pemberian tangan-Mu
dan mengaku, s'perti Yesus di depan sengsara-Nya
Jangan kehendakku Bapa, Kehendak-Mu jadilah

Apa juga yang Kautimbang, baik untuk hidupku
biar aku pun setuju dengan maksud hikmat-Mu
menhayati dan percaya walau hatiku lemah
Jangan kehendakku Bapa, kehendak-Mu jadilah

Aku cari penghiburan hanya dalam kasih-Mu
Dalam susah dikau saja perlindungan hidupku
'Ku mengaku, s'perti Yesus di depan sengsara-Nya
jangan kehendakku Bapa, Kehendak-Mu jadilah

Last Updated ( Tuesday, 06 January 2009 )
 
Thankful
Contributed by Anov Mailoa   
Tuesday, 30 December 2008

(David Foster/Carole Bayer Sager/Richard Page)

sung by Josh Groban

 

Somedays we forget
To look around us
Somedays we can't see
The joy that surrounds us
So caught up inside ourselves
We take when we should give.


So for tonight we pray for
What we know can be.
And on this day we hope for
What we still can't see.
It's up to us to be the change
And even though we all can still do more
There's so much to be thankful for.

Look beyond ourselves
There's so much sorrow
It's way too late to say
I'll cry tomorrow
Each of us must find our truth
It's so long overdue

So for tonight we pray for
What we know can be
And every day we hope for
What we still can't see
It's up to us to be the change
And even though we all can still do more
There's so much to be thankful for.

Even with our differences
There is a place we're all connected
Each of us can find each other's light

So for tonight we pray for
What we know can be
And on this day we hope for
What we still can't see
It's up to us to be the change
And even though this world needs so much more

There's so much to be thankful for

 
Cita-cita
Contributed by Anov Mailoa   
Tuesday, 30 December 2008

Ketika kecil, jika ditanya tentang cita-cita, jawaban kita begitu lugas dan sederhana. Dokter, polisi atau insinyur, umumnya bicara tentang profesi. Ada juga, sih, yang tidak menyebutkan profesi. Ada anak kecil yang jika ditanyakan cita-citanya akan menjawab dengan lucunya, "Mau jadi pengantin!"

 

Apakah cita-cita sesederhana itu? Bahkan ketika cita-cita itu sudah tercapai, ternyata cita-cita kembali menjadi pertanyaan. Setelah menyelesaikan studi kita di akademi kepolisian, fakultas kedokteran atau fakultas teknik apakah kita sudah tidak punya cita-cita lagi? Lalu apa cita-cita kita selanjutnya?

 

Bagaimana pula dengan orang yang sudah meninggal? Salah satu suster yang merawat Papa di saat-saat terakhir sebelum dipanggil Tuhan bercerita bahwa Papa sempat berdoa memohon kepada Tuhan agar diberi hidup lebih lama karena masih banyak hal yang belum dilakukannya. Entah benar atau tidak cerita itu, ternyata Papa masih punya cita-cita yang harus diwujudkan.

 

Cita-cita adalah motivasi untuk hidup. Tanpa cita-cita tidak ada alasan untuk hidup. Cita-cita tidak perlu rumit atau muluk-muluk. Ya, cita-cita harus tinggi, tapi tidak muluk-muluk. Seringkali juga kita bahkan tidak sadar bahwa kita sebenarnya punya cita-cita. Keinginan-keinginan sederhana kita sebenarnya juga adalah cita-cita. Cita-cita itu bisa berasal dari kita sendiri atau sesuatu yang harus kita teruskan dari orang-orang terkasih yang meninggalkan kita.

 

Bagaimana dengan cita-cita Anda?

 

Last Updated ( Tuesday, 30 December 2008 )
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 Next > End >>

Results 1 - 6 of 22